Aku habis dari kantor Kelurahan untuk ngurus surat keterangan domisili kantor yayasan,, yang pindah dari Lembang ke Jl. Sari Endah, Bandung. Proses yang aku agak gentar menghadapinya. Kenapa? Berurusan dengan pemerintah/birokrasi cukup membuatku illfeel. Rasanya selalu berhubungan dengan keribetan dan “uang pelicin”. Benar ga? Konsep ini dah tertanam di otakku. Dan benar saja, ketika aku menanyakan hal-hal yang harus aku sediakan untuk kepentingan surat domisili ini, penjelasan berakhir dengan biaya yang harus dibayarkan. Huh....sebegitu besarnyakah? Untuk apa saja? Bukannya cuma mengetik, tandatangan, dan cap? Masa sebesar itu? Dalam hari aku protes, tapi pengalaman pertama itu membuatku langsung malas berhubungan dengan pemerintah.
Apa mau dikata, aku tetap harus kembali ke sana, karena harus segera mengurus surat tsb. Kali ini aku mengajak seorang teman. Dan aku bersykur banget, memang berdua lebih baik daripada seorang diri (seperti Pengkhotbah bilang). Aku merasa mendapat kekuatan untuk berargumen dengan petugas kelurahan, mengenai biaya yang harus dibayarkan. Kami tetap keukeuh (teguh hati) dengan biaya yang kami sanggupi, yang akhirnya membuat kami harus bertemu dengan Lurahnya sendiri.
Hari ini aku ketemu pak Lurah. Sikapnya baik sekali dan welcome dengan penawaran kami. Aku sungguh terkesan dan urusan cepat beres. Aku belajar untuk tidak menyerah, mengusahakan sesuatu ”sampai titik darah penghabisan”. Aku belajar untuk asertif dan menyatakan kepentinganku dengan cara yang benar. Aku bersyukur dan banyak belajar dari hal ini, bahwa masih banyak (atau ada?) orang baik di negara ini, di pemerintahan khususnya. Aku perlu membangun mindset yang positif terhadap orang-orang yang bekerja di pemerintahan, orang-orang yang menjaga integritasnya. Salut untuk Pak Lurah Kel. Sukarasa, bpk. Tommy Kosmiri. Terima kasih banyak dari kami.
Senin, 22 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar